Nabire (27/10/2025) — Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KemenHAM RI) menggelar kegiatan Penguatan Kapasitas Hak Asasi Manusia di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Nabire, Papua, pada Senin (27/10). Acara yang berlangsung di Lapangan SMKN 1 Nabire ini diikuti oleh sekitar 400 peserta yang terdiri atas siswa, guru, serta pegawai sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KemenHAM untuk memperluas pemerataan kesadaran dan pendidikan HAM di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah timur.
Dialog interaktif dibuka oleh Staf Khusus Menteri HAM Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Internasional, Stanislaus Wena, yang menyampaikan salam dan pesan dari Menteri HAM. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya membangun kesadaran HAM sebagai fondasi karakter generasi muda. “Pendidikan HAM adalah kunci membentuk kecerdasan emosional dan empati sosial, karena 80 persen kesuksesan seseorang ditentukan oleh kemampuan menghargai martabat manusia,” ujarnya.
Selain Stanislaus Wena, hadir pula Staf Khusus Menteri HAM Bidang Penegakan HAM Martinus Pigai, Sekretaris Direktorat Jenderal Instrumen dan Penguatan HAM Ratih Ekarini Savitri, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire Dina Pidjer, serta Kepala Bidang Instrumen dan Penguatan HAM Kanwil KemenHAM Papua Burhani Hadad. Mereka turut berdialog langsung dengan siswa dan guru mengenai berbagai isu HAM aktual di Papua, mulai dari konsep dasar HAM, kasus kriminalitas daerah, hingga peran KemenHAM dan Komnas HAM dalam penegakan keadilan.
Sesi dialog berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari siswa, termasuk pembahasan nilai-nilai universal anti-diskriminasi, keberagaman agama dan budaya, hingga etika dalam pendidikan seperti batasan antara “cubit kasih sayang” dan kekerasan. Kepala Sekolah SMKN 1 Nabire juga menyampaikan komitmen sekolah dalam menerapkan prinsip-prinsip HAM melalui kebijakan penerimaan siswa dengan komposisi 50% Orang Asli Papua (OAP) dan 50% non-OAP.
Dalam kesempatan tersebut, Stanislaus Wena menegaskan kembali bahwa penguatan pendidikan HAM sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya pada poin pertama yaitu membangun karakter bangsa dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Ia menyampaikan bahwa KemenHAM akan terus memperluas program serupa di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya membentuk generasi muda yang berintegritas dan berperspektif HAM.
Kegiatan diakhiri dengan pesan moral bahwa penghormatan terhadap martabat manusia serta penguatan kecerdasan emosional merupakan fondasi penting dalam membentuk pelajar Papua sebagai agen perubahan. Melalui kegiatan ini, KemenHAM berharap kesadaran HAM dapat tumbuh kuat di kalangan generasi muda, sehingga mereka mampu menjadi teladan dalam menjaga nilai kemanusiaan dan keadilan sosial di lingkungannya.