Munggahan Jelang Ramadhan 1447 H, Wakil Menteri HAM Tekankan Spiritualitas dan Profesionalisme Kerja

18 Februari 2026 07:45 WIB
Humas Kementerian HAM
93 Dilihat

Jakarta (13/02/2026) – Menjelang Bulan Suci Ramadhan 1447 H, keluarga besar Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (KemenHAM RI) menggelar tradisi Munggahan di Aula Lantai 8 KemenHAM RI, Jumat (13/02).

Munggahan ini dihadiri oleh Wakil Menteri HAM Mugiyanto, Pimpinan Tinggi Madya, Pimpinan Tinggi Pratama, Para Pejabat Administrator dan Pengawas, serta seluruh pegawai.

Dalam kesempatan itu, Wakil Menteri HAM Muigyanto dalam arahannya menekankan pentingnya menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum untuk menata spiritualitas sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas dan fungsi.

“Munggahan sebagai tradisi yang sudah menjadi bagian dari budaya kita, adalah waktu yang tepat untuk mencanangkan diri dan membersihkan hati dan jiwa. Mari kita satukan niat dan tekad untuk memperbaiki diri, saling memaafkan, dan mempererat tali silaturahmi antara sesama,” ucap Mugiyanto.

Mugiyanto mengajak seluruh jajaran KemenHAM RI untuk meneladani semangat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menyambut Ramadan dengan penuh sukacita dan peningkatan kualitas ibadah. Namun, ia menekankan bahwa semangat ibadah tersebut harus selaras dengan profesionalisme kerja.

"Sebagai pegawai KemenHAM RI, kita memiliki tugas mulia untuk menjaga dan membela hak-hak asasi manusia. Hal tersebut tidak hanya perlu dilakukan dalam konteks profesional, namun juga dalam kehidupan sehari-hari dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan," ujar Mugiyanto.

Disamping itu, Mugiyanto meminta jajaran yang menjalani ibadah puasa, dapat menghormati minoritas yang tidak menjalankan ibadah puasa. Hal ini merupakan salah satu prinsip dasar dalam hak asasi manusia yang harus diimplementasikan dalam praktik sehari-hari.

Selanjutnya dalam ceramah yang disampaikan oleh Imam Masjid Istiqlal Ahmad Husni Ismail, ia mengajak kepada seluruh pegawai yang akan menjalankan ibadah puasa untuk menumbuhkan rasa iba, simpati, dan empati kepada sesama, terutama mereka yang kekurangan atau tertimpa musibah. Hal ini sejalan dengan wujud nilai-nilai hak asasi manusia.

Ia mengisahkan hadis tentang seorang wanita pendosa yang diampuni karena memberi minum seekor anjing yang kehausan, serta sebaliknya, seorang ahli ibadah yang masuk neraka karena menyiksa seekor kucing. Ia berpesan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak hanya dicapai di atas sajadah melalui salat, tetapi juga melalui aksi nyata membantu manusia lain.

"Mendekati Allah itu bukan hanya di sajadah, bukan hanya di tahajud. Tapi pada saat kita mempertajam spiritualitas kita, mempertajam rasa iba kita kepada saudara-saudara kita yang kekurangan," tegas Ismail.

Ia berharap munggahan ini dapat menjadikan para pegawai sebagai pribadi yang lebih saleh, disiplin, dan memiliki kinerja yang lebih tinggi dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.

Whatsapp KemenHAM RI