Jakarta (03/03/2026) – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan bahwa kejahatan kemanusiaan dan peperangan merupakan tindakan yang bertentangan dengan nurani manusia (hostis humanis generis). Pernyataan tersebut disampaikannya merespons eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pigai menekankan bahwa situasi perang tanpa akhir tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berdampak luas terhadap kemanusiaan global. Ia mengajak seluruh elemen, mulai dari individu, komunitas, pemimpin prominen, hingga negara besar maupun kecil, untuk memiliki kepedulian dan tanggung jawab yang sama dalam mendorong intervensi kemanusiaan demi terciptanya perdamaian dunia, termasuk di kawasan Timur Tengah.
“Semua pihak memiliki kepentingan dan kewajiban moral yang sama untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian,” ujar Pigai dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (03/03).
Dalam kesempatan tersebut, Pigai juga mengapresiasi inisiatif Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang berkeinginan mengambil peran sebagai juru damai melalui intervensi kemanusiaan (humanitarian intervention). Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata Indonesia dalam mendorong tatanan dunia yang lebih damai dan berkeadilan.
Ia menegaskan tidak ada yang keliru dari upaya Presiden untuk terlibat aktif dalam proses perdamaian. Sikap tersebut dinilai sejalan dengan semangat Indonesia yang saat ini memegang peran sebagai Presiden Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam mendorong pemajuan dan perlindungan HAM di tingkat global.
“Melalui semangat ini, maka kita jangalah merasa kecil, rendah diri, dan tidak sanggup,” tegasnya dengan optimis.